Kuartal Q2 2026: biaya berpindah dari peringatan ke lantai, sementara tren tetap mudah dibaca
Rangkuman tiga bulan. Permintaan earth tone dan oversize bertahan sepanjang kuartal, sementara polyester naik 40% di Mei mengeras menjadi biaya pokok dan mulai membatasi kapasitas produksi di Juni.
Kuartal kedua 2026 punya satu cerita yang berjalan tiga bulan, dan cerita itu bukan tentang tren. Trennya sangat mudah dibaca: siluet oversize, palet earth tone, hijab street, dan cargo mendominasi dari pekan pertama sampai terakhir tanpa jeda.
Cerita sebenarnya ada di sisi biaya, dan bergerak dalam tiga tahap. Di April biaya masih berupa peringatan. Di Mei ia mengeras menjadi lantai yang menetap. Di Juni ia mulai membatasi berapa banyak yang bisa diproduksi. Tiga bulan, satu arah.
Tulisan ini merangkum 91 hari pemantauan internal Revota — pekan 15 sampai akhir pekan 26 — dan menarik benang merahnya menjelang Q3.
Catatan soal angka
Rangkuman ini disusun dari 91 hari pemantauan internal sepanjang April sampai Juni 2026: listing di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop, harga di sentra grosir Cigondewah dan Tanah Abang, serta kabar regulasi. Angka di bawah adalah estimasi pantauan internal Revota, bukan data statistik resmi dan bukan hasil survei bermetodologi. Perlakukan sebagai indikator arah. Untuk keputusan yang menyangkut komitmen besar, konfirmasi ke pemasok Anda sendiri — harga bahan bervariasi antar- sentra dan antar-spesifikasi, kadang cukup jauh.
Permintaan: konsistensi yang membuat perencanaan mudah
Sepanjang kuartal, sisi produk hampir tidak memberi kejutan, dan itulah temuan terbesar di sisi permintaan. Dua hal muncul nyaris setiap hari tanpa jeda: siluet oversize dan loose-fit, serta palet earth tone — sage green, olive, terracotta, beige, misty grey, taupe. Hijab street dan modest fashion mengisi porsi volume tertinggi sepanjang waktu, dengan Kenan Hijab, JINISO, dan Grosir Klamby muncul berulang sebagai acuan.
Yang berubah bukan dasarnya, melainkan aksennya — dan aksen itu berputar mengikuti musim dan momentum event:
- April: earth tone paling dominan, ditemani pastel lembut. Erigo, Mayoutfit, Bloods, dan Screamous jadi acuan siluet pasca-Lebaran dan Jakarta Fashion Week "Earthly Allure".
- Mei: aksen berani naik tajam — icy blue, color clash, pastel berembun, dan Cloud Dancer (putih lembut) memperkuat sisi netral. Gen Z mulai bergeser dari quiet luxury murni.
- Juni: celana barrel dan wide-leg naik ke puncak ranking, butter yellow jadi aksen baru, dan permintaan mulai berputar ke bahan adem menjelang musim kemarau.
Pelajaran kuartal ini: warna yang diumumkan sebagai tren tahunan dan warna yang benar-benar dibeli orang adalah dua hal berbeda. Yang pertama menggerakkan percakapan; yang kedua menggerakkan stok. Earth tone menggerakkan stok sepanjang kuartal.
Biaya: perjalanan dari peringatan ke lantai
Ini tulang punggung kuartal ini, dan yang paling langsung memengaruhi margin.
| Periode | Kondisi bahan |
|---|---|
| April | Bersahabat — katun combed turun ke kisaran Rp102.000/roll; polyester pertama naik di akhir bulan tapi belum menetap |
| Mei | Polyester melonjak sekitar 40% (paraxylene ±US$1.300/ton) dan merembet 10–40% ke katun, rayon, denim; biaya logistik marketplace dimajukan ke 1 Mei |
| Juni | Polyester menetap di level baru tanpa koreksi; benang DTY langka, sebagian mesin konveksi idle; tekanan pindah dari harga ke kelangkaan kapasitas |
Pergeseran yang paling penting terjadi di antara baris-baris itu. Di April biaya masih bisa diceritakan sebagai "kenaikan yang mungkin mereda". Di Mei ia menjadi "baseline baru". Di Juni ia bukan lagi soal harga semata — benang yang langka dan mesin yang idle berarti window untuk memproduksi pada biaya saat ini menyempit dari dua sisi sekaligus, harga dan kapasitas.
Yang membuat ini berbahaya: tekanan itu tidak pernah muncul sebagai peringatan di laporan. Ia muncul sebagai margin yang menipis tanpa penjelasan — selama angka harga pokok di laporan masih memakai asumsi akhir Maret. Brand yang paling cepat merasakannya adalah yang HPP-nya dihitung sebagai rata-rata global, bukan per batch.
Kanal dan regulasi: tenggat yang menumpuk
Selain bahan, sisi kanal menambah lapisan tekanan yang menumpuk sepanjang kuartal:
- Biaya admin Shopee di 10–11,7% untuk kategori fashion (sejak Januari), plus lapisan pre-order +3%.
- 1 Mei — biaya layanan logistik dari seller di Tokopedia/TikTok Shop (sekitar Rp260 per pesanan, mena berdasarkan jarak dan dimensi); 2 Mei komponen gratis ongkir Shopee yang ditanggung seller naik.
- 18 Mei — penyesuaian komisi dinamis (cap sekitar Rp650.000 per item).
- Permendag 19/2026 — seller wajib NIB, platform memblokir seller tanpa izin, biaya layanan wajib transparan, UMKM terdaftar dapat diskon biaya hingga sekitar 50%.
- PPh Final UMKM 0,5% dipungut via marketplace mulai 1 Juli; MLM dilarang di marketplace.
- PMK 98/2025 (BMTP) menambah beban kain kapas impor Rp3.000–3.300/meter; PMK 92/2025 memungkinkan barang impor dengan dokumen telat dinyatakan tidak dikuasai dan disita. Di sisi peluang, AS memberi bea masuk 0% TRQ untuk tekstil Indonesia.
Arahnya satu: penegakan yang mengetat, dan beban dokumentasi yang bertambah. Bagi brand yang pencatatannya masih tersebar di beberapa spreadsheet, biaya kepatuhan terasa lebih dulu sebagai jam kerja yang hilang.
Pasar offline
Pasar offline bergerak mengikuti kalender event sepanjang kuartal. April dibentengi Jakarta Fashion Week "Earthly Allure" dan rangkaian pop-up di Trunojoyo, Riau, Cilandak, dan PIM. Mei memuncak dengan Hijabfest di Trans Studio Mall Bandung dan Brightspot SuperMRKT Jakarta (220+ brand lokal), disusul Indonesia Women Fest dan Premium Outlets Shopping Week di akhir bulan. Juni membawa Jakarta Fair Kemayoran, Preloved Festival Bandung, dan Parade Surabaya Fashion Festival.
Pola yang konsisten setiap pekan: weekend dan jam 16.00–21.00 paling ramai, dan brand yang inventaris online-offline-nya tersinkron memetik click & collect. Kapasitas menangkap traffic offline ditentukan oleh akurasi stok, bukan oleh luas etalase.
Benang merah kuartal ini
Tiga bulan ini, risiko terbesar bukan pernah soal menebak tren. Justru sebaliknya — trennya sangat mudah dibaca karena begitu konsisten. Yang membedakan brand yang bertahan adalah seberapa cepat mereka tahu bahwa biaya produksinya sudah berubah, dan apakah angka margin yang mereka lihat tiap minggu masih mencerminkan kenyataan hari ini, atau kenyataan akhir Maret.
Biaya masukan naik dan mengeras dari satu sisi, sementara permintaan tidak memberi kejutan harga yang bisa menutupinya. Kombinasi itu menekan margin diam-diam, dan kalau tidak terlihat cepat, ia terlihat terlambat.
Memasuki Q3
Satu hal yang perlu dibawa ke kuartal berikutnya: biaya sudah bukan peringatan lagi. Polyester di 40% lebih tinggi, benang mulai langka, dan dua tenggat (NIB dan PPh 1 Juli) sudah mendarat beriringan. Periksa tiga hal sebelum kuartal baru benar-benar berjalan — harga pokok per batch bukan rata-rata, kapasitas konveksi yang sudah menyempit, dan harga jual yang mungkin sudah tertinggal dari realitas biaya.