Pengetahuan

Sistem konsinyasi ritel: cara mencatat, menghitung bagi hasil, dan menagih

Titip jual terlihat sederhana sampai barang tersebar di banyak titik. Cara mencatat stok konsinyasi, menghitung bagi hasil, dan menutup periode tanpa selisih.

Konsinyasi — atau titip jual — adalah cara tercepat memperluas jangkauan tanpa membuka toko sendiri. Barang Anda dititipkan di toko orang lain, dan pembayaran baru terjadi setelah barang laku.

Modelnya menarik justru karena risikonya rendah di awal. Yang jarang disadari: risikonya tidak hilang, ia hanya berpindah dari modal ke pencatatan.

Yang membuat konsinyasi berbeda

Perbedaan mendasarnya satu: barang sudah tidak ada di tangan Anda, tapi masih milik Anda.

Di penjualan biasa, barang keluar dari gudang berarti barang sudah terjual. Di konsinyasi, barang keluar dari gudang tapi belum menghasilkan apa pun. Ia masih persediaan Anda, hanya berada di lokasi orang lain.

Konsekuensi pencatatannya:

Penjualan putusKonsinyasi
Saat barang dikirimPendapatan diakuiBelum ada pendapatan
Kepemilikan stokPindah ke pembeliTetap milik Anda
Risiko tidak lakuDitanggung pembeliDitanggung Anda
Pendapatan diakui saatPengirimanBarang laku ke konsumen akhir

Baris terakhir yang paling sering keliru dicatat. Brand yang mencatat pengiriman konsinyasi sebagai penjualan akan melihat angka penjualan yang membesar sementara kasnya tidak bergerak — dan baru sadar saat barang kembali beberapa bulan kemudian.

Empat hal yang harus disepakati di depan

Kebanyakan sengketa konsinyasi berakar pada hal yang tidak dibicarakan di awal.

1. Skema bagi hasil. Berapa persen untuk penitip, berapa untuk pemilik toko. Yang perlu dipertegas: persentase dihitung dari harga jual sebelum atau sesudah diskon? Kalau toko memberi diskon 20% tanpa persetujuan, siapa yang menanggung?

2. Periode dan tenggat pembayaran. Rekap tiap kapan, dibayar berapa lama setelahnya. Tanpa ini, penagihan selalu terasa canggung dan selalu terlambat.

3. Tanggung jawab atas barang hilang atau rusak. Barang di toko orang lain bisa hilang atau rusak. Kesepakatan yang jelas soal ini menghindarkan perdebatan yang merusak hubungan baik.

4. Aturan penarikan barang. Kapan Anda boleh menarik barang yang tidak laku, dan apakah ada masa minimum. Tanpa ini, stok Anda bisa terkunci di lokasi yang tidak menghasilkan.

Mencatat stok konsinyasi

Prinsipnya: perlakukan tiap titik konsinyasi sebagai lokasi tersendiri.

Kalau Anda mencatat semua barang konsinyasi sebagai satu tumpukan "barang di luar", Anda kehilangan kemampuan menjawab pertanyaan paling dasar: di toko mana artikel ini masih ada?

Dengan tiap titik sebagai lokasi sendiri, pergerakan barang tercatat sama seperti transfer antar-gudang:

Kirim konsinyasi   : gudang → lokasi "Toko Mitra A"   (stok Anda, pindah lokasi)
Laporan penjualan  : keluar dari "Toko Mitra A"       (baru di sini jadi penjualan)
Tarik barang       : lokasi "Toko Mitra A" → gudang   (kembali ke gudang)

Manfaat lain dari cara ini: Anda bisa membandingkan kinerja antar-titik dengan angka yang sebanding. Titik mana yang perputarannya cepat, mana yang cuma menyimpan barang Anda tanpa menjual.

Menutup periode

Ini bagian yang paling banyak memakan waktu, dan paling banyak menimbulkan selisih.

Rekap penjualan dari mitra. Biasanya datang dalam bentuk apa adanya — kadang foto catatan tulis tangan, kadang pesan singkat. Yang penting: rekap itu harus per varian, bukan per artikel. Rekap yang menyebut "kaus hitam 5 pcs" tanpa ukuran akan membuat stok Anda tidak pernah benar.

Cocokkan dengan stok fisik di titik itu. Rumus yang harus selalu cocok:

Stok awal + kiriman - terjual - retur = stok fisik sekarang

Kalau tidak cocok, selisihnya harus diselesaikan sekarang, selagi periodenya masih segar. Menundanya berarti menumpuk pekerjaan yang makin sulit ditelusuri.

Hitung bagi hasil dan terbitkan tagihan. Dari rekap yang sudah cocok, bukan dari perkiraan.

Kesalahan yang paling mahal

Menganggap rekap mitra selalu benar. Bukan soal curiga — pencatatan manual di toko yang sibuk memang rawan luput. Karena itu pencocokan stok fisik bukan formalitas; ia satu-satunya cara mengetahui rekapnya lengkap.

Tidak pernah menghitung ulang stok di titik konsinyasi. Kalau stok di mitra tidak pernah diperiksa fisik, selisih menumpuk diam-diam selama berbulan-bulan. Saat akhirnya ketahuan, tidak ada yang bisa menjelaskan.

Menyamakan semua mitra. Mitra yang rekapnya rapi dan tepat waktu layak mendapat lebih banyak stok. Mitra yang rekapnya selalu terlambat dan selalu meleset sedang membebani Anda dengan biaya administrasi yang tidak terlihat di mana pun.

Tanda konsinyasi Anda perlu dibenahi

  • Anda tidak bisa menjawab "berapa total barang saya yang sedang di luar" tanpa membuka beberapa berkas
  • Penagihan selalu terlambat karena rekapnya belum lengkap
  • Ada barang yang sudah berbulan-bulan di satu titik tanpa laporan penjualan maupun penarikan
  • Selisih ditemukan saat penarikan barang, bukan saat penutupan periode

Konsinyasi yang dikelola rapi adalah kanal yang sangat efisien: jangkauan bertambah tanpa biaya sewa. Konsinyasi yang dikelola asal adalah cara paling halus kehilangan persediaan — karena barangnya tidak hilang sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, di tempat yang tidak Anda lihat.