Review pasar ritel fashion Q2 2026: guncangan bahan baku dan siluet yang bertahan
Rangkuman pemantauan kuartal kedua: harga bahan yang berbalik arah di Mei, siluet oversized yang bertahan sepanjang kuartal, dan empat regulasi yang perlu diantisipasi.
Kuartal kedua 2026 punya satu titik balik yang jelas: kuartal ini dibuka dengan harga bahan baku yang bersahabat, lalu berbalik arah di awal Mei.
Tulisan ini merangkum apa yang kami pantau sepanjang April sampai Juni, dan lebih penting lagi, apa yang perlu Anda lakukan dengannya.
Catatan soal angka di tulisan ini
Sebelum masuk isi, kami perlu jujur soal dari mana datanya.
Rangkuman ini disusun dari 29 hari pemantauan internal sepanjang Q2 — mencakup harga bahan di sentra grosir, pergerakan produk di marketplace, dan kabar regulasi. Angka yang muncul di bawah adalah estimasi pantauan internal Revota, bukan data statistik resmi dan bukan hasil survei bermetodologi.
Perlakukan sebagai indikator arah, bukan sebagai angka yang bisa dikutip untuk proyeksi keuangan. Untuk keputusan yang menyangkut komitmen besar, konfirmasi dulu ke pemasok Anda sendiri — harga bahan bervariasi antar-sentra dan antar-spesifikasi, kadang cukup jauh.
1. Bahan baku: kuartal yang terbelah dua
Ini temuan terpenting kuartal ini, dan yang paling langsung memengaruhi margin.
April: murah dan tenang. Sepanjang bulan pertama, harga bahan pokok apparel relatif stabil bahkan cenderung longgar. Cotton combed dan fleece masih ditawarkan di bawah Rp100 ribu per roll oleh sebagian pabrik, sementara katun dan CVC bergerak di kisaran Rp60–80 ribu per kilogram, kerap disertai diskon pemasok. Cotton 20s justru naik permintaannya karena brand lokal kembali ke bahan tebal, tapi harganya bertahan.
Mei: berbalik arah. Awal Mei membawa pergerakan tajam pada polyester, yang kami pantau naik di kisaran 30–40% seiring melonjaknya harga paraxylene di pasar global — dampak lanjutan dari harga minyak dan ketegangan geopolitik. Karena polyester adalah dasar bagi banyak campuran, kenaikan itu merembet: katun, rayon, dan denim ikut terkerek meski tidak setajam itu.
| Periode | Kondisi bahan |
|---|---|
| April | Stabil–longgar; cotton combed dan fleece di titik termurah kuartal ini |
| Awal Mei | Polyester melonjak; campuran ikut naik menyusul |
| Juni | Bertahan di level baru, tanpa koreksi berarti |
Yang perlu Anda lakukan. Kalau harga pokok produksi Anda masih memakai asumsi kuartal pertama, angka margin di laporan Anda kemungkinan terlalu optimistis — dan selisihnya tidak akan muncul sebagai peringatan di mana pun. Ia akan muncul sebagai margin yang menipis tanpa penjelasan.
Periksa harga pokok per batch, bukan rata-rata global. Batch yang masuk sebelum Mei punya struktur biaya yang berbeda dari yang sesudahnya, dan margin per penjualan hanya benar kalau dihitung terhadap batch yang benar-benar terjual.
2. Siluet: konsistensi yang jarang terjadi
Kalau bahan baku bergejolak, sisi produk justru sebaliknya — dan kestabilan itu sendiri adalah temuan.
Sepanjang 29 hari pemantauan, dua hal muncul nyaris tiap hari tanpa jeda: siluet oversized dan baggy, serta palet earth tone dan netral — sage green, terracotta, beige, misty grey, charcoal, olive. Bukan lonjakan sesaat yang naik lalu hilang, melainkan dasar yang bertahan sepanjang kuartal.
Ada satu ketegangan yang menarik. Di pertengahan April, warna-warna bold seperti electric blue dan fuchsia sempat ramai dibicarakan sebagai warna tahun ini. Tapi yang benar-benar bergerak konsisten di data penjualan tetap palet earth tone.
Pelajaran yang bisa diambil: warna yang diumumkan sebagai tren tahunan dan warna yang benar-benar dibeli orang adalah dua hal berbeda. Yang pertama menggerakkan percakapan; yang kedua menggerakkan stok.
Yang perlu Anda lakukan. Konsistensi selama satu kuartal penuh adalah dasar yang cukup kuat untuk keputusan restock — jauh lebih kuat daripada lonjakan satu minggu. Untuk warna bold, perlakukan sebagai porsi kecil bereksperimen, bukan sebagai taruhan utama koleksi.
3. Regulasi: empat yang bergerak
Beberapa perkembangan sepanjang Q2 yang berdampak langsung pada operasi ritel:
- PPh Final UMKM. Revisi aturan tarif 0,5% dalam tahap finalisasi, dengan arah menjadikannya permanen untuk pelaku dengan omzet di bawah ambang tertentu.
- Kewajiban halal untuk tekstil. Pengawasan impor mengetat, dengan konsekuensi pada dokumentasi produk.
- Pengetatan impor pakaian bekas. Penindakan terhadap jalur thrifting impor ilegal menguat sepanjang kuartal.
- Ketentuan perizinan berusaha. Kewajiban NIB bagi pelaku yang berjualan di kanal daring makin ditegakkan.
Arah umumnya satu: penegakan yang mengetat, dan beban dokumentasi yang bertambah. Bagi brand yang pencatatannya masih tersebar di beberapa spreadsheet, biaya kepatuhan akan terasa lebih dulu sebagai jam kerja yang hilang, bukan sebagai denda.
Karena aturan ini masih bergerak, cek status terakhirnya ke sumber resmi sebelum mengambil keputusan yang mengikat. Yang kami sampaikan di sini adalah arah, dan arah bisa berubah di tengah jalan.
Benang merah kuartal ini
Biaya masukan naik, sementara sisi permintaan tidak memberi kejutan yang bisa dipakai menutupinya. Kombinasi itu menekan margin dari satu sisi saja — dan kalau tidak terlihat cepat, ia terlihat terlambat.
Yang membedakan brand yang bertahan di kuartal seperti ini bukan ketepatan menebak tren. Justru sebaliknya: trennya kali ini sangat mudah ditebak karena begitu konsisten. Yang membedakan adalah seberapa cepat mereka tahu bahwa harga pokok produksinya sudah berubah — dan apakah angka margin yang mereka lihat tiap minggu masih mencerminkan kenyataan hari ini, atau kenyataan bulan Maret.